Semoga Arsenal WFC tidak berakhir seperti Jokowi di Media Sosial

Populer, namun nirnilai

Disclaimer:

  • Buzzer adalah sebuah kata netral, politik mempeyorasi maknanya.
  • Tulisan pendek berikut merupakan upaya kembali menulis setelah hampir dua tahun absen. Maaf bila sangat kaku dan mengandung banyak sekali logical fallacy.

EFEKTIVITAS GAUNG kerja buzzer (pendengung) harus diakui memengaruhi seberapa banyak suatu topik diperbincangkan di dunia maya. Ambil contoh dalam sepak bola perempuan. Arsenal WFC (selanjutnya disebut Arsenal saja) boleh jadi sekarang yang terbaik di Inggris.

Namun, untuk ukuran sepak bola Eropa kualitas Arsenal masih tertinggal jauh dari tim Liga SpanyolPrancis, bahkan Jerman. Apalagi bila dibandingkan –secara kualitas– dengan klub Liga Sepak bola Wanita AS, tentu belum sekuku.

Tidak perlu menjadi pandit andal untuk sekadar mengetahui bahwa kualitas Arsenal tidak sebaik dan semumpuni klub liga wanita lain di Eropa. Cukup amati pertandingan perempat final Liga Champions Wanita baru-baru ini.

Tim asuhan Joe Montemurro kewalahan kontra PSG Feminines. Mereka dipaksa kalah 2-1. Kelemahan terbesar Arsenal, barangkali sudah menjadi rahasia umum, ialah terlalu lembek saat tertinggal lebih dulu dari tim dengan kualitas setingkat di atas mereka. Arsenal kalah. PSG melaju.

Sejam setelah pertandingan, Arsenal mendadak menjadi pembicaraan teratas di Twitter. Muncul analisis belibet betapa kejamnya lini belakang PSG memblokir ruang gerak Miedema (megabintang mereka) lengkap dengan diagram, grafik, entah apalagi namanya memperlihatkan Miedema sebagai korban dari marking yang ketat.

Setelah kekalahan dari PSG ini menjadi trending, Tim Stillman, kolomnis sepak bola terkemuka Inggris memberi analisis mendalam soal betapa tidak tepatnya strategi pelatih yang membuat Arsenal harus kalah malam itu di The Guardian. Selebihnya lagi, dan lagi, pembicaraan tak beranjak dari Miedema adalah Arsenal, Arsenal adalah Miedema.

Kekalahan Arsenal yang menjadi topik pembicaraan ini tentu menyumbulkan tanda tanya besar. Pasalnya setelah Arsenal tersingkir dari ajang tersebut, pembicaraan Liga Champions Wanita Eropa di Twitter turun secara interaksi maupun intensitas percakapan.

Tidak heboh. Kabar baiknya, pembicaraan jadi lebih mendalam.

Bagi kamu yang aktif di Twitter pertanyaan-pertanyaan seperti berikut adalah wajar; Mengapa Arsenal yang kalah bisa begitu dibicarakan ketimbang Lyon saat menjuarai ajang ini? Apakah pembicaraannya organik? Bagaimana konsep pemasaran Arsenal? Seberapa jor-joran sebuah klub hanya untuk media sosial, terutama Twitter?

Tentu, tak ada jawaban pasti untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut, selain asumsi-asumsi.

Penikmat sepak bola hanya bisa berharap, penampilan di lapangan penentu mutlak.

Idealnya, kepopuleran di dunia maya harus berbanding lurus dengan performa lapangan. Sedang yang diperlihatkan Arsenal belakangan ini — terlalu berat memikul popularitas sosial media sampai lampu sorot media mainstream yang kelewat silau.

Terbaru, Arsenal menjadi klub wanita dengan tingkat kepopuleran tertinggi di dunia sepanjang September 2020 (data survei pembicaraan Twitter oleh D&F) dengan 857 ribu interaksi. Diikuti Chelsea dan Manchester United Women. Apakah ini sebuah prestasi? Yang jelas kepopuleran semacam ini tak perlu dirayakan, karena mengandung banyak bias hingga menulikan.

Fans Arsenal sedunia harus was-was dengan kabar ini. Terutama fans di Indonesia. Mengingat il phenomeno Pakde Jokowi di sosial media. Kebijakan populis kanan yang populer berkat afirmasi buzzer politik di media sosial, membuat pembicaraan tak lagi organik, membuat ia belepotan dalam mengambil kebijakan.

Semua dipatok Jokowi lewat kacamata perbincangan media sosial, terutama buzzer.

Terbaru, lihat pidato Joko ways soal omnibus law. Sehingga kritik dari para profesor, pakar, masyarakat sipil dan sejenisnya dianggap angin lalu.

Sejak 2014 dengung untuk Jokowi menjadi makanan publik yang mendorong orang menjadi penganut fanatisme sosok. Jokowi menjadi tak bercela, di mata pendukung yang irasional.

===

Kekhawatiran Arsenal menjadi seperti Jokowi di media sosial ini muncul ketika mengingat kembali bagaimana pendukung Arsenal menggambarkan kekalahan dari PSG 23 Agustus 2020.

Buzzer atawa fans Arsenal menggambarkan Arsenal adalah korban dari ketatnya garis pertahanan PSG, alih-alih menyoroti kesalahan taktik seperti disampaikan Tim Stillman di Guardian.

===

Semoga predikat klub wanita terpopuler di jagat media sosial tidak membutakan manajemen Arsenal WFC bahwa beberapa pertandingan terakhir, walau berakhir dengan kemenangan, permainan Arsenal sesungguhnya jeblok.

Terakhir, semoga kekhawatiran ini tak berdasar sama sekali.

Posted in

Tinggalkan komentar