Puncak (bukit) Gunung Medan, sensasi yo man, juga kelindan ingatan di atasnya

Hari libur cuti bersama Waisak, Selasa (13/5) sore, Achmal Syahab (Kemal) berkunjung ke Gunung Medan. Kunjungan spesial yang menunda sehari keberangkatan Albi Qolbu Zakia ke ibu kota provinsi sana, pula, kunjungan yang membangunkanku dari tidur siang keterusan.

Kemal — saat ini pegiat lingkungan di Forest Guardian — datang dengan kaos hitam bergambar pejuang-pejuang kemanusiaan hingga pejuang yang kemanusiaannya direnggut negara, dari Bunda Teresa hingga Marsinah — pejuang kemanusiaan dari rahim perempuan di sudut Makedonia Utara sampai pejuang buruh dari desa Ngundo — tersusun di kaos itu.

Sembari menunggu-menunggu kedatangan Albi disempatkan sejenak ngobrol, “Ke puncak, yuk, bang. Tempat meditasiku, tak pernah alpa kukunjungi kalau di sini,” buka Kemal dengan asap Draco membumbung di isapan kesekian, “Ayuk, you nanti akan punya tempat meditasi khusus baru.”

Long story short, datanglah Albi, berkaos hitam dengan siluet Che Guevara. Lengkap sudah, batinku, aku akan men-guide dua anak muda dengan inspirasi perjuangan sesorean ini.

***

Sekira 17.00 kami sampai di puncak bukit. Langsung kutunjukkan tempat baru buat meditasi Kemal. Tempat meditasi ini terletak beberapa jengkal dari destinasi biasa yang dikunjungi Kemal, agak menjorok ke bawah. Tempat ini sedang dibangun menggunakan anggaran Dana Desa tahun 2025.

Albi dan Kemal duduk di atas gundukan Yo Man

Hanya butuh beberapa detik untuk mendengar kata “wah” dari mereka. “Cocok, meditasi dengan tema yo man,” celetuk Albi. “Yo man” merujuk ke warna tempat duduk dan tiang-tiang penyangga berwarna hijau-kuning-merah, warna identik tradisi rastafarian Jamaika.

Sementara sibuk mengecek setiap detil tempat sambil merekam-rekam, kutinggalkan mereka di sebuah kursi. Di kejauhan tampak mereka sudah mulai ngobrol sengit dibarengi musik dari album “Deru” punya Kolektif AMPSKP, side project Novi dari Sukatani. Obrolan yang dari jauh kucuri dengar sayup-sayup terdengar kata Papua, konvo, bantuan hukum, diselingi ketawa-ketawa kecil.

Setelah cekikikan

Sekenanya kujawab, “Barangkali itulah Gunung Medan, di samping cerita rakyat yang melegenda, hidup kedamaian di dalamnya. Eh, arsiteknya anak vespa pula.” Setelah lega dengan jawaban sekenanya tadi mereka mengajakku ke panorama, istilah Kemal untuk area tempat melihat pemandangan hijau dari ketinggian.

***

Di dekat area panorama ini, sambil jalan, pada mereka kutunjukkan beberapa titik yang sentimen buatku. “Kalian tahu?” sambil menunjuk sebatang pohon tinggi, “di situ Nancy terakhir kali deeptalk dengan Sid Vicious.” Mereka mengerti rupanya analogi tadi. Tertawa-tawa menepuk pundakku.

Area panorama, seperti istilah Kemal adalah sebuah tempat di bukit ini yang tersedia spot pemandangan hijau dari atas: ada sawah, ladang, pemukiman, bukit-bukit yang bertetangga ada di sini. Entah hal magis apa udara sore terasa begitu menyejukkan terasa juga olehku.

Persis di sebelah kanan pogon itu, setahun berlalu

Tak mau diporakporandakan ingatan tentang Sid-Nancy atau versi lain Layla-Majenun aku pun nimbrung di obrolan mereka tentang seorang kawan anarko yang akhimya menemukan kedamaian diri setelah berkompromi dengan nilai tradisional lingkungannya.

Dari ketinggian

Ya, dengan mereka obrolan akan selalu utopis.

Pukul 18.00 candu mabar Kemal datang, mengentak-entak ingatannya pada rumah, pada sirkel gim, entahlah. Mari pulang.

Posted in

Tinggalkan komentar