“We really don’t know what happen in the future.”

Hei. Masih ingat kau pernah mengatakan sekalimat dalam bahasa Inggris itu padaku dalam beberapa kesempatan? Future. Keadaan di waktu depan. Waktu depan, masa akan datang. Seakan masa yang akan lama datang, bukan?

Berlalu setahun, kurun tidak lama setelah sekalimat itu kau ucapkan kita sampai pula di future. Ia menjadi keadaan present, “saat ini”. Don’t know, kita ketahui melalui kenyataan: Kita selesai. Berakhir!

Aku tak akan pernah menyalahkan diri akibat ujung tragik ini. Tak akan. Kitalah biang keladi perusak awal penuh harap yang pernah diskenariokan semesta. Seimbang; kau dengan besaran kadarmu-aku dengan andil kadar tersendiri. 

Kau tak memberi banyak waktu padaku untuk memelajari kau dalam wujud nyata. Kulit bersentuh kulit. Mata bertatap mata. Kau memilih pergi, seolah tak ingin berlama-lama mengenankanku untuk memegang tangan, mencium dahi, mengelus rambut yang menutup jidatmu.

Kau pergi dengan segoni ekspektasimu. Aku berdiam di tempat ini dengan segerobak kengototan. Lalu?

Posted in

Tinggalkan komentar