MALAM ini seseorang mengirim pesan berisi pertanyaan (penulisan ulang di sini tidak sesuai dengan teks asli, telah melalui penyuntingan ke gaya formal), “Pertanyaanku, tidakkah terniat olehmu menikah dalam waktu dekat? Kamu boleh menjawab pertanyaan ini dengan hati-hati.”

Tanpa pikir panjang kuutarakan jawabanku mengenai pernikahan yang kuyakini. Begini:

“Maka jawaban jujur dan paling hati-hati untuk menjawab pertanyaanmu adalah untuk saat ini belum terpikirkan soal menikah olehku. Kenapa? Jika ini barangkali bakal menjadi tanya lebih lanjut untukmu, sebab aku mematut diri belum mampu membahagiakan perempuan yang sekiranya akan menjadi istriku.

“Lalu, tentu kau pun, ku kira, akan bertanya lebih lanjut tentang haruskah memikirkan sejauh itu? Maka, ya, harus. Karena aku tidak mau menjadi bagian dari laki-laki patriark yang mengubah perempuan yang aku cintai menjadi tertekan karena ketidakmampuanku memenuhi mimpi-mimpinya.

“Lantas, mungkin akan diikuti dengan tanya, memang harus begitu? Ya. Harus. Sebagai abang dari seorang adik perempuan aku juga tidak mau hal-hal demikian dialami oleh adikku. Menikahi laki-laki yang salah. Dan jika kau masih bertanya, lantas sampai kapan ini keyakinan tolol ini bertahan? Sampai kelak aku benar-benar ready, baik dari segi mental (you know, aku belum matang [dalam pesan aku menambahkan emot tertawa]) pun dalam segi finansial.

“Coba bayangkan ilustrasi ini sejenak. Ada perempuan yang sebelum menikah hidupnya keren, bisa ke mana-mana, bisa wujudin mimpi-mimpinya. Lalu, karena dasar cinta mati (wih) pada seorang lelaki dia pun memilih menikahinya. Lalu yang terjadi kemudian dalam pernikahan perempuan itu tertekan, bahkan untuk bilang “tidak” pun (atas dasar cinta sangat) pada lelaki itu dia menjadi tidak berani.

“Nah, sebelum semua itu terjadi, ada baiknya menikah itu kita anggap menjadi sebuah proses yang panjang. Itulah jawabanku. Maybe weird. :’))”

[…..]

Hal yang tidak kukatakan padamu, hubunganku sebelumnya kandas akibat keseringan membahas pernikahan ini. Lantaran aku tidak ingin kita berputar-putar kelak dalam lingkaran pertanyaan tentang menikah yang melelahkan karena itu kamu harus kecewa lebih awal membaca jawaban dariku. Sementara kelegaan meliputi jiwaku akhirnya aku bisa jujur tentang ketaksiapanku untuk urusan sakral ini alih-alih menjadi yes-man berbelit-belit tanpa bisa menyakinkan hati perempuan hingga berujung kandas. Sebelum perasaan itu tumbuh mekar, alangkah baiknya, kupatahkan lebih awal. Kuharap, laki-laki lain tidak mengalami kegamangan sepertiku yang pesimis pada hari depan. Semoga kita masih bisa terus mengobrol hal-hal menyenangkan.

Salam cinta untukmu.

I’m sorry I love you.

Posted in

Tinggalkan komentar