• “…there’s no greater power than the power of good-bye…”

    — Madonna

    Semacam pengumuman pembubaran

    Hola, Halo. Tak terasa sudah dua tahun usia Literation Not Bombs. Cepat sekali waktu berjalan ya, friends, kamerad! Berawal dari diskusi saat senja-senja sebelum tanggal 5 November 2016, kami sepakat untuk membikin wadah yang dinamai Literation Not Bombs disingkat L.O.S. Bergerak atas dasar keprihatinan memudarnya budaya baca di sekitar kami. Kegiatan rutin yang kami rancang kala itu adalah Senin Membaca yang diadakan di salah satu kampus keguruan swasta di Padang ini.

    Dimulai sejak Senin 7 November 2016. Sayang, Senin Membaca terhenti di kegiatan ke-3, Senin 21 November 2016. Entah karena pihak penyedia tempat (yang) konservatif — selalu manut pimpinan — atau kegiatan kami yang tak dapat mereka nalar. Akhirnya, ya sampai di sana umur Senin Membaca.

    Berikut kami hadirkan kembali beberapa dokumentasi tersisa dari Senin Membaca 1–3: 

    Senin Membaca I (7 November 2016)

    Saat kami dikira penjual buku bekas. Hadeh.
    Foto yang begitu ikonik untuk dikenang
    Liputan Bung Giring aka Insan Al Fajri dari Reportimes

    Senin Membaca II (14 November 2016)

    Pengumuman Senin Membaca II

    Teater oleh Komsi Peran
    Banyak yang antusias
    Terima kasih, kawan-kawan Komsi Peran
    Dramatical reading
    Sajak oleh Rio Jo Werry

    Senin Membaca III (21 November 2016)

    Senin membaca hanya sampai tiga kegiatan, selanjutnya L.O.S dari Kampus ke Kampus, Panggung Rakyat ke Panggung Rakyat, hingga pengujung 2016:

    Bertemu sekutu baru, Teras Literasi

    #212Membaca Aksara Berkaki

    212 Membaca setidaknya lebih baik dari isu politis di ibukota sana. Ketemu sekutu baru Aksara Berkaki
    Tadarusan Membaca

    Bung Hatta Anti Korupsi (9 Desember 2016)

    PARAK SUMBAR (17 Desember 2016)

    Teras Literasi: Nobar Jakarta Unfair (10 Desember 2016)

    ===

    MEMASUKI 2017 ada dua peristiwa besar yang dilalui LOS. Pertama, LOS mulai merancang sendiri kegiatannya. Ada dua panggung rakyat yang diadakan. Kedua, yang menghebohkan saat LOS ikut mengangkat isu Kendeng dan Percepatan Tanam Padi di bawah pengawasan tentara di Sumbar itu.

    Salah satu medium yang digunakan L.O.S untuk menyuarakan isu tersebut adalah teatrikal. Rabu (17/4/2017) mereka melakukan aksi teatrikal yang berujung pada interogasi berjam-jam. Pembuatan video teatrikal yang sejatinya akan diputar pada kegiatan Panggung Rakyat itu dinilai oleh sekelompok kacang ijo sebagai penghinaan terhadap institusi mereka. (Selanjutnya silakan kawan-kawan cek arsip koran lokal mengenai ini).

    Salah satu judul bombastis media lokal yang bikin kami geli

    5 November 2018, L.O.S sepakat untuk membubarkan diri. Untuk merefleksi umur yang pendek ini, kawan-kawan seperjuangan diundang untuk hadir ke acara terakhir kami. Ada apa? Mengapa jalan bubar ini kami pilih? Ayo datang saja ke Singgalah Kopi. Mari sama-sama kita rayakan perpisahan ini dengan kegiatan senang-senang.

    Terima kasih untuk semua yang pernah kita lewati, kamerad!

    Semoga spirit Guy Fawkes selalu dalam diri kita!

  • SAHABATKU, Maria.

    Aku melihat begitu banyak kesenjangan, di saat hatiku begitu hancur, begitu rapuh, menderita dalam bisu. Adakalanya aku bertanya: “Mengapa kehidupan manusia dari waktu ke waktu semakin sulit? apakah hanya orang-orang kaya yang ditakdirkan untuk tertawa terbahak-bahak?” atau, “Akankah orang miskin selamanya ditakdirkan untuk bekerja keras, diperas, diiming-imingi mimpi kesejahteraan? mengapa hanya segelintir orang, katakanlah itu para pejabat yang merasakan indah hingga lelapnya tidur dalam hormat orang? bukankah kita hidup di dalam suatu negara?” lalu, “Apakah harus terkenal dulu baru bisa didengarkan orang segala kata walaupun itu tiada bermakna?” 

    Aku tertegun bertanya pada diriku dan pada dirimu “dangkalkah pertanyaan-pertanyaan yang aku tanyakan?” Sekarang tanyaku mengambang menyangkut banyak hal yang menjadi cibiranku kepada negara tanah airku, dengarlah tanyaku, Maria. “Di negaraku untuk berkuasa harus menghabiskan banyak harta, masuk ke dalam partai politik, kampanye. Bukankah berkuasa atau memimpin itu merupakan suatu amanah dan pemegangnya hendaklah seorang ahli yang sudah memenuhi syarat-syarat itu? Seperti risalah orang-orang suci yang diceritakan dalam kitab agamaku dan agamamu?”

    Aku sedih, terlalu melankolis. 

    Dugaanku di negara ini kekuasaan adalah ladang uang, yang terus didodos semakin lancar uangnya, semakin dikeruk semakin tampak uangnya. Mungkin kau tertawa membaca surat yang kukirim kepada engkau ini. Sekali lagi aku bertanya-tanya, kali ini aku mungkin akan menerka jawabanmu tentu ini berkaitan dengan konsentrasi ilmu yang kau pelajari di negeri Paman Sam sana.

    Bacalah ini, jangan lupa tertawa bila perlu “laugh so hard you cry,” Maria Johnsenku…

    “Mengapa menerbitkan uang harus memiliki aturannya tersendiri, bukankah uang itu hanyalah selembar kertas yang dijadikan oleh manusia simbol kekayaan materil, tinggi rendahnya status sosial, atau jangan-jangan kita memang sengaja untuk menciptakan kasta?”

    Aduh, semakin tolol saja aku bertanya, sebaiknya engkau tertawa sebentar sebelum lanjut membaca surat curahan hatiku yang pilu dan menjengkelkan ini, Maria. Kalau saja kau berada di dekatku berbincang denganku saat ini tidak mustahil kau akan mengatakan, “Hey Udik, itu sudah prosedurnya, menciptakan uang itu berpatokan pada Dollar. Tidak bisa seenak omongmu saja. Begini, jika nilai tukar mata uangku menguat, maka nilai rupiahmu melemah. Nilai uang kami melemah sedikit, bolehlah bangsamu merasa senang jua atau sekadar penghibur di headline-headline berita di sana”.

    Walaupun tadi aku bertanya-bertanya tentang banyak hal padamu.  Belum senang hatiku, sekarang aku ingin bertanya perihal yang dianggap tabu dalam masyarakat di negaraku, dan menyeramkan bagi orang-orang yang mengatakan dirinya beriman. Bacalah ini Maria kemudian hayati dengan seksama, dialog antara aku dan hatiku yang tengah mencari iman (yang) tercecer. “Apakah Tuhan itu ada? Dalam ayat dan firmannya selalu mengatakan jadilah orang baik, saleh, kerjakan perintahKu maka akan Kuberikan rahmatku. Mengapa dalam kenyataan aku melihat orang yang bertuhan hidupnya sering ditimpah kekurangan, atau memang agama itu sudah takdirnya sebagai tempat orang yang pasrah dan menderita?”

    Apakah kau marah membaca tanyaku kepada hatiku sendiri? Jika iya maafkan! Jika lucu jangan segan untuk menertawakan. Aku merasa hatiku seakan marah padaku, aku seolah-olah mendengar ia membentakku. “Hey Udik! kamu mana paham tentang keagamaan, ketuhanan. Makanya rajin-rajinlah kamu salat. Belajar agama atau ngaji –berguru kepada para ustaz. Buang semua bacaan-bacaanmu yang dikarang oleh para ahli kafir itu, orang barat itu, karya mereka para profesor pintar yang menentang tuhan itu!”

    Aku bertanya lagi. 

    “Orang salat menyembah Tuhan, maka mereka akan menjadi baik. Tapi, mengapa aku masih saja melihat ada orang salat akan tetapi berhati busuk, berakal bengkok, mementingkan diri sendiri. Apakah salat itu hanya sekadar simbol bagi mereka yang tergiur akan janji suatu tempat penuh kesenangan di akhirat yang disebut surga?” Kemudian, aku mendengar lagi jawaban tuan yang segumpal daging bernama hati tadi. Menjawab dia dengan congkaknya. “Hai Tuan yang kurang piknik! Apa-apaan yang kau tanyakan itu? Apa kau seorang ateis?” tanyanya.

    “Apa memang kau sudah tidak percaya lagi Tuhan? Apa kau dulu sewaktu kecil sebelum tidur tidak pernah didongengkan janji surga, dan betapa kejamnya kisah neraka oleh Bapak atau Ibumu? Dengarlah cerita indah tentang surga, surga yang di sana tempat kau mendapatkan segala yang engkau ingini? Lalu, dengar pula cerita tentang azab neraka. Neraka yang panasnya tidak terhingga. Celakalah engkau! Mulai sekarang buanglah pemikiranmu yang tidak bertuhan itu! Makanya kau harus piknik! Jangan hanya berdiam diri di rumah saja. Hanya bisa membaca buku karangan orang-orang barat kafir itu. Sudah waktunya untukmu terbang mengelilingi dunia. Kemudian lihatlah orang yang salat yang damai hatinya. Bahkan di negara kafir yang kau agung-agungkan itu banyak terdapat orang yang salat berhati lurus. Ibarat katak yang terkungkung di dalam tempurung. Itulah dirimu sekarang, tempurungmu pun rusak pula!”

    Maria, aku lawan terus segumpal daging yang sejak tadi aku rasakan memarahiku itu. Aku bertanya dan terus bertanya padanya. Maria, jangan bosan membaca dialog antara aku dan tuan segumpal daging yang bernama hati ini. Aku katakan, “kalau benar begitu pandanganmu terhadapku, apakah kau percaya pada aku yang udik, kurang piknik, dan tak bertuhan ini (seperti yang kau tuduhkan padaku) bahwa dunia ini hanya diatur oleh kekayaan segelintir orang?”

    Tuan yang segumpal daging tadi marah besar padaku, Maria. Bertambah keras pula ia menghinaku. “Hai Idiot! Bakar semua bukumu yang kapitalis. Tinggalkan semua teman profesormu yang mengagumi otak dan logika yang tidak bertuhan itu. Seenaknya saja engkau berbicara seperti itu padaku yang suci. Memangnya baru sampai di mana ilmumu yang tolol tersebut? Yang mengatur semua itu adalah Tuhanku yang tidak terlihat oleh matamu yang juling, pikiranmu yang bengkok, akalmu yang sejengkal goblok itu tidak akan pernah mampu memahaminya!”

    Begitu keras dia memakiku Maria. 

    Mendengar kata-kata marahnya padaku, aku semakin menjadi-jadi bertanya, melawan daging yang suci itu, namun sekarang aku melawan seperti seorang perempuan cengeng yang dikhianati kekasihnya. Aku bergumam, “aku telah lama percaya padamu, wahai Tuan Suci, lama sekali. Namun, kenyataan yang terlihat olehku selalu saja berlawanan dengan apa yang engkau lihat tuan. Aku begitu takut, begitu kagum pada kemesraan kita sebelum dunia ini menjadi kejam dan sebelum aku pandai berjalan sendiri. Akan tetapi setelah aku terlalu lama bermanja-manja denganmu, sekarang aku tidak ingin lagi berlaku seperti itu kepadamu. Aku sudah memulai langkah kecil mencari apa yang tidak terlihat oleh orang. Mencoba menembus batas pikiran seorang profesor idiot yang selalu kau sebut sebagai temanku itu. Mencoba melampaui isi buku pengarang kafir yang kau cemooh itu. Mencari arti kesucian qalam yang tidak akan pernah kau ragukan sekalipun. Mencari petunjuk nyata tuanmu yang segala maha itu, tuan!”

    Maria Johnsen, ingin aku sudahi surat untukmu ini, tapi aku yakin kau penasaran apa reaksi hatiku setelah aku bergumam seperti perempuan yang dikhianati tadi. Maria, setelah mendengar gumamanku tadi, dia (hati) tertawa terbahak-bahak.

    Katanya, “kau orang gila, beruntung kau masih bisa gunakan seperempat otakmu. Seandainya saja tidak, tentu aku sudah melihatmu di jalanan dengan kaki terbakar, dada telanjang, bibir nyungging sendiri. Ah, mengapa kau ungkit masa lalu kita? Kau tidak pernah sadar, tidak ikhlas mencari sesuatu. Dan keluhan yang kau bual padaku itu mungkin kau hanya bingung atau tersesat dalam pencarianmu. Aku tumbuh bersamamu, aku telah menyatu denganmu, aku bersamamu saat engkau pertama kali dilahirkan, kau manusia lemah, lembek, manja, cengeng, tidak bisa melakukan apa-apa selain berkhayal. Kau hanya seorang pemalas yang beruntung disokong Ibumu. Kini kau kehilangan itu semua. Karena itu semuakah kau rela membual dengan dalih pencarian kehidupan atau banyak lagi istilah keilmuanmu yang dangkal itu? Aku bisa membaca itu semua disaat aku bergetar ketika kau marah, mungkin kau hanya melihat satu contoh yang lebih kau sukai saja. Lalu kau menemukan tantangan yang membuatmu putus asa karena tidak ada hal yang sesuai dengan apa yang kau cita-citakan. Kau mendengar satu celaan kemudian kau merendahkan diri, kau lihat……”

    Maria, belum selasai tuan tadi berkata, aku tinggalkan dia, karena aku merasa dia juga membual. Aku terus berlalu sambil mendengar suara bising para kafir barat (yang disebut) liberal di selilingiku. Di tengah perjalanan, berkatalah aku, “sebenarnya aku tidak percaya pada siapa pun, apa pun. Aku hanya terlihat polos tanpa otak, dan untukmu tuan segumpal daging yang masih ingin bising, aku tancapkan lakban hitam ini pada mulutmu. Biarkan saja aku mencari jalan yang aku nyaman dan membuat aku paham apa semua maksud yang terselubung yang ada di dunia ini. Dunia yang hanya sebatas kekuasaan, harta, ketamakan, dan kerakusan ini.”

    Maria, Demikian keluh kesah serta pergulatanku dengan tuan segumpal daging (hati) dalam mencari arti dunia aku suratkan untukmu.  Semoga kau tidak bosan membacanya, dan kau bisa menceritakan sedikit keadaan di California. Ceritakan juga tentang kondisi masyarakatmu yang terkenal ke penjuru dunia sebagai bangsa yang berbudaya itu. Jika kau memiliki kesempatan di liburan musim dinginmu nanti, pergilah menghangatkan diri ke Indonesia. 

    Sebelum kututup dengan salam aku lampirkan lirik Madonna yang sering engkau nyanyikan “I’m not religious but i fell so move, make me want to pray, pray with you be here” lalu aku sambung “you silly thing”. 

    Sekian.

    Balas suratku menggunakan bahasa Indonesia. Aku tidak ingin mengencingi bahasaku.

    Padang, 25 Ramadan 1437 H.