Mei tahun ini adalah bulan terbaik, bersejarah, sekaligus menegangkan bagi tifosi Milan. Pasalnya ini sebuah perayaan terjadi setelah puasa mengangkat trofi Serie-A selama 11 tahun. Penantian panjang. Bayangkan, jika anakmu lahir pada 2011 maka pada 2022 dia berusia 11 tahun, merunut hitungan kasar anakmu duduk di kelas lima sekolah dasar. Penantian panjang (dengan catatan, hitungan ini tidak dikomparasikan dengan penantian panjang Liverpool).
Salah seorang dari fans Milan yang kukenal baik, DWN, agaknya dua kali merasakan bahagia bulan Mei. Pertama, di awal, si bung kita menikah. Dari curi dengar perkataan kawan sekolahnya pada pesta pernikahan Sabtulalu, Bung DWN mesti menunggu sedekade untuk benar-benar melepas kelajangannya. Si Bung, melanglang dulu ke beberapa negara jiran. Paling penting disebut di sini Australia, tempat dia melanjutkan studi, tepatnya Monash University. Di negara ini si Bung menempa diri dengan segudang pengalaman. Kemudian jalan-jalan lain tak usahlah disebut di sini.
Perkawananku dengan si Bung barangkali baru dua tahun. Hanya mengobrol dengannya membuat cakrawala terbuka. Membuatku saban hari mengkhayalkan enaknya lari ke negara orang, hahaha. Persis pada hari-hari sebelum Pilkada 2019 itu aku mengenal si bung. Awalnya hanya membaca pikiran-pikiran lewat Facebook. Juga sampai taraf tertentu ada beberapa kesamaan pandangan, bukan berarti kami saling setuju dengan pandangan masing-masing ya. Kesamaan ini pula yang pada akhirnya memutuskan kami membuat podcast CAS Nalar, meski tidak terkenal, yang penting branding digital aja dulu.
Salah satu episode CAS Nalar
Begitulah perkawananku dengan si Bung. Aduh, sebenarnya ini kelemahanku, susah merunutkan pikiran. Sebab hal itu lagi-lagi aku bikin judul klikbait. Pendulum dari tulisan ini hanya sekadar ingin memberi ucapan selamat karena pada 4 Juni 2022 kawanku ini resmi menjadi minsua. Harapanku semoga selalu diliputi kebahagiaan, mencintai dengan tulus, dan panjang umur.
Sebelum kututup tulisan nggak jelas ini, kukutipkan pada el profesor sepenggal lirik Hey Jude dari The Beatles, (finally) “You have found her, now go and get her”.
JAM menunjukkan pukul 21.00, langit masih hujan ketika saya mulai menghidupkan mesin motor. Tujuan keberangkatan malam ini adalah sekretariat Rumah Baca Peduli Bangsa (RBPB), terletak di Koto Agung, berjarak 10 kilo meter (menurut pengukuran aplikasi Google Maps) dari kediaman di Gunung Medan.
Kedatangan ke sini atas pesan dari Yogi Buana Putra yang sebelumnya — di tengah hujan —singgah di rumah mengabari kalau saya “disuruh salah seorang senior” ke RBPB. Lima menit setelah motor dipanaskan dan hujan sedikit reda saya tancap gas.
Untuk mencapai RBPB tersedia beberapa rute dari Gunung Medan. Pertama, via jalan Blok A; Kedua, via jalan Sitiung; Ketiga via Sungai Duo, dan jalan baru gor melewati Koto Padang.
Saya memilih rute paling cepat. Rute Sungai Duo. Sebab baru pertama ke sini, Google Maps sangat membantu di jalan. Walaupun keakuratannya meleset beberapa meter.
Dua puluh menit perjalanan saya sampai di Rumah Baca Peduli Bangsa. Bangunan berwarna hijau dengan ruang bagian depan yang cukup luas. Ketika sampai saya bertemu dengan kawan-kawan lintas-organisasi di Dharmasraya. Suatu kemewahan.
Suasana di dalam Rumah Baca Peduli Bangsa, geliat kesibukan
Saya sampai tepat ketika dalam ruangan rumah baca ini rapat sedang berjalan alot. Rupanya kedatangan saya bertepatan dengan rapat persiapan menyambut Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan yang diinisiasi DPD KNPI Dharmasraya. Pembahasan rapat berkisar pada pembagian kerja mengantar proposal pengajuan dana ke perusahaan-perusahaan di daerah ini, pembahasan jadwal dan tim peserta turnamen bola kaki, seminar, dll.
Bung Age, inisiator rumah baca ini, mengenalkan saya kepada beberapa kawan yang belum saya kenal. Beberapa jenak kemudian, saya melirik-lirik koleksi buku rumah baca. Cukup lengkap, mulai dari buku bertema keagamaan, psikologi, sosial, politik, hingga buku fiksi.
Mata saya kemudian tertuju pada satu buku di sudut jejeran buku. Buku itu satu karya nonfiksi klasik Nawal El-Saadawi (1931–2021), Catatan dari Penjara Perempuan, terbitan Yayasan Obor Indonesia. Saya membaca beberapa lembar bab awal buku, karena terbiasa membaca di ruangan sendirian mata saya tak kuat lagi untuk melanjutkan membaca. Kemudian saya minum kopi yang disuguhkan seorang kawan. Setelahnya lanjut menyusuri ruangan di rumah baca ini.
Salah satu koleksi RBPB
Ruangan di sini terdiri dari satu ruang tamu luas dan tiga kamar. Satu ruang garasi sepeda motor bersebelahan dengan dapur. Sebelumnya saya juga minta izin kepada Age Kurniawan untuk menggunakan salah satu ruangan untuk keperluan podcast bersama Bung Dodi Widia dalam waktu dekat.
Sebagai pemanasan podcast baru, selanjutnya, saya coba merekam materi buat saluran Youtube saya yang vakum hampir dua tahun dengan mewawancara Yogi Buana Putra penulis buku kompilasi puisi Jangan Tersinggung Tuan! Kurang lebih 37 menit kami merekam percakapan seputar proses kreatif karyanya itu. Hasil rekaman bisa dilihat di sini.
Ruangan di RBPB
Serba Sedikit tentang Rumah Baca Peduli Bangsa
“Rumah baca ini baru berdiri, umurnya belum sampai tiga bulan. Berdiri 8 September 2021, bertepatan dengan hari buku internasional. Dan, ini sangat spesial, berdiri bertepatan dengan hari ulang tahunku, Bung!” Begitu Age membuka percakapan setelah ditanya riwayat rumah baca ini. Filosofis, gumam saya dalam hati.
Rumah Baca Peduli Bangsa memiliki visi sebuah usaha kecil untuk mencerdaskan bangsa. Karena kepedulian terhadap bangsa itu pula nama yang digunakan Rumah Baca Peduli Bangsa.
Siniar RBPB
Dalam mendirikan rumah baca ini Age dibantu seorang teman yang sama-sama konsen pada gerakan literasi. Ke depan rumah baca akan dikelola secara profesional. Nanti bakal ada peminjaman buku seperti perpustakaan umum jika koleksi buku sudah banyak. Untuk jumlah koleksi buku yang ada sekarang berkisar 200an judul. Koleksi berasal dari donasi kawan-kawan jejaring yang dibangun di media sosial.
“Nanti, bung, sudah kita rencanakan juga soal keanggotaan. Untuk sementara ini baru tersedia buku tamu. Selanjutnya kita adakan kegiatan lain di sini, contohnya, lomba-lomba yang diperuntukkan untuk anak usia sekolah,” dijelaskan Bung Age lebih lanjut.
Usaha bertahap yang dilakukan Bung Age dkk di media sosial mulai menampakkan hasil. Sudah ada yang memberi donasi untuk bikin plang merek, ajakan kolaborasi kegiatan, pun sekadar say hello perkenalan dari komunitas lain.
Saat disinggung soal kepemilikan tempat, dirinya menerangkan kalau rumah besar ini kepunyaan salah satu saudara yang saat ini tengah berada di Pulau Jawa, “karena tidak ada yang ngurus, makanya aku minta ijin, gimana kalau rumah ini aku kelola” dan eureka, terciptalah tempat ini.
Kendala rumah baca ada pada beberapa bagian yang bocor, jelas Age. Age menutup percakapan sambil berpesan, “Jika ada kawan-kawan yang ingin donasi buku atau yang lain dapat menghubungi laman media sosial Rumah Baca Peduli Bangsa.”
***
Malam makin larut. Anak-anak muda di sini masih aktif: mereka berdebat, berdiskusi, beradu ide terbaik demi kesuksesan acara mereka. Melihat mereka, waktu bagi saya seakan putar balik ke beberapa tahun silam ketika masih menjadi mahasiswa — suatu dunia muda yang menggeliat!
Dan, sebagai penutup tulisan, saya teringat pesan seorang kawan yang saat ini bermukim di Jakarta beberapa minggu lalu, “Moga-moga dalam waktu dekat tercipta suatu komunitas intelektual di Dharmasraya”. Malam ini, saya menemukan jawaban, “Bung, anak-anak muda yang sedang rapat malam inilah komunitas intelektual di Dharmasraya dan Rumah Baca Peduli Bangsa sebagai rumah bersama mereka!”
Cas Nalar, ini merupakan siaran khusus untuk ngobrol berbagai isu seputar politik, pendidikan, sosial, hingga kemanusiaan. Dibuat pada 25 Oktober 2021 oleh dua orang yang resah atas hegemoni informasi para pendengung di Dharmasraya.
Cas, singkatan yang merujuk pada Corong Akal Sehat.
Cas Nalar Podcast mengusung misi menguliti isu-isu hangat di Dharmasraya dengan akal sehat, menggunakan nalar — alur berpikir — yang jernih. Pemirsa dan pendengar, selamat menikmati sajian Cas Nalar. Semoga akal sehat dan nalar kritis kita semua senantiasa terisi penuh.
Yuk mari… bersama-sama kita pelajari tujuan dari suatu informasi yang didengungkan secara sistemik oleh otoritas kekuasaan.
Sepuluh tahun mengalami tahun gila — perlahan semua hilang: rasa percaya diri; uang yang makin menjauh; sedang kebutuhan hidup naik gila-gilaan. Hei tahun tahun gila. Apa ini bakal berlangsung selamanya?
Bunda Zulfa, begitu kami memanggilnya, hari ini sukses melewati ujian promosi doktoral. Maka, resmi pula gelar “Dr” disematkan di depan namanya. Selamat, Dr. Zulfa!
(Hanya) “Theone and only” Bunda Zulfa (yang) berhasil membimbing beberapa mahasiswa angkatan 2011 dan 2012 (tahun 2018, dua angkatan ini sudah dicap mahasiswa sisa-sisa) mampu melewati deras badai perjuangan mengentaskan skripsi. Hasilnya, not bad, walau telat, tapi bisa dan tuntas, selesai studi.
Jika sudah Bunda Zulfa yang turun tangan, tipe mahasiswa apapun manut. Tak peduli seaktivis, serebel, se-anrk, se-far left, se-centre, se-far right, se-konservatif, se-progresif, se dst… pokoknya manut. Jelas manut bukan karena takut di bawah ancaman, tapi manut karena memang Bunda Zulfa memiliki pendekatan yang beda, singkatnya: humanis. Mengutip ucapan salah satu tokoh Tolstoy dalam Anna Karenina, “…when you love someone, you love the whole person, just as he or she is, and not as you would like them to be.” Nah, kira-kira begitu pendekatan beliau.
Kembali, berkat the one and only Bunda Zulfa pula, mahasiswa sejarah punya kebiasaan baru: Menulis.
Hasil dari hobi baru kami ini, di ulang tahun ke-46 Bunda Zulfa, kami membikin sebuah buku kecil dipersembahkan khusus untuk ulang tahun Bunda Zulfa. Buku kecil ini merekam kenang-kenangan kami bersama Bunda Zulfa. Dipersembahkan oleh: Tim Carito Kito.
Buku kecil itu kami beri judul Bunda Zulfa Kita: [keren] dan [beda].
(**) Lihat laporan KontraS berjudul “Temuan Tindakan Kekerasan Aparat & Pembungkaman Negara Terhadap Aksi-Aksi Protes Menolak Omnibus Law di Berbagai Wilayah” di sini
Baru mulai, sejak bulan lalu, mendengarkan musik dari band keren pengusung new wave di jamannya bernama Blondie.Persisnya, lebih duluan tahu Debbie Harry ketimbang tahu Blondie. Pertama kali tahu Debbie Harry sekitaran 2016 atau 17. Ketika seorang teman Facebook menggunakan foto seorang perempuan duduk nyender di kursi (mobil/pesawat?) memegang koran The Sun dengan headline huruf besar semua “WOMEN ARE JUST SLAVES”.
Semua berawal dari foto ikonik ini
Kemudian berkat bantuan google search by image atau kolom komentar di profil teman tadi, saya lupa persisnya, mengarahkan ke satu nama Debbie Harry, dari nama ini mengarah ke Blondie. Yap. Dia penyanyi Blondie. Band punk 70an. Pencarian selesai sampai di situ. Tak ada kelanjutan untuk mendengarkan musik-musik mereka.
Setelah beberapa purnama…
Bulan kemarin baru coba-coba dengerin musik mereka, kelanjutannya adalah sejarah. Tiada hari tanpa musik Blondie. Di mana pun. Ketika main kartu 13, di pos ronda, atau hendak mandi memutar lagu mereka lalu membiarkan nyanyi sendiri, sedang saya asyik mandi.
Beberapa hal bersifat ensiklopedik yang harus kamu tahu…
Blondie tercatat sebagai Rock N Roll Hall of Fame pada 2006;
Sampai sekarang Debbie Harry masih punya power personal, you know, i like granny with empower likes Madonna (?);
Wajah Debbie Harry muda mengingatkan saya pada seorang perempuan yang gagal dimiliki, hihaihai. ((Ini poin personal seharusnya tak perlu disebut di sini));
Blondie, masih aktif mengeluarkan studio album dari jaman piringan hitam, kaset pita, hingga sekarang jaman streaming Spotify, Deezer, Apple Music, YT Music; terbaru di tahun 2017, sialnya belum sempat dengar;
Blondie, EDM, Funk, saya kira mereka mengombinasikan aliran itu melampaui zaman dan ke level tertentu;
Kata Watch Mojo, Heart of Glass adalah lagu Blondie paling hebat, bagi saya tetap Shayla, tentang perempuan yang bekerja di pabrik;
Tentang Blondie perlu beberapa tahun lagi untuk mengerti visi mereka mengingat catatan berbahasa Indonesia sedikit sekali, sedang berjibun di artikel berbasa Inggris. Huah. Capek baca sambil buka Google Translate.
Buzzer adalah sebuah kata netral, politik mempeyorasi maknanya.
Tulisan pendek berikut merupakan upaya kembali menulis setelah hampir dua tahun absen. Maaf bila sangat kaku dan mengandung banyak sekali logical fallacy.
EFEKTIVITAS GAUNG kerja buzzer (pendengung) harus diakui memengaruhi seberapa banyak suatu topik diperbincangkan di dunia maya. Ambil contoh dalam sepak bola perempuan. Arsenal WFC (selanjutnya disebut Arsenal saja) boleh jadi sekarang yang terbaik di Inggris.
Tidak perlu menjadi pandit andal untuk sekadar mengetahui bahwa kualitas Arsenal tidak sebaik dan semumpuni klub liga wanita lain di Eropa. Cukup amati pertandingan perempat final Liga Champions Wanita baru-baru ini.
Tim asuhan Joe Montemurro kewalahan kontra PSG Feminines. Mereka dipaksa kalah 2-1. Kelemahan terbesar Arsenal, barangkali sudah menjadi rahasia umum, ialah terlalu lembek saat tertinggal lebih dulu dari tim dengan kualitas setingkat di atas mereka. Arsenal kalah. PSG melaju.
Sejam setelah pertandingan, Arsenal mendadak menjadi pembicaraan teratas di Twitter. Muncul analisis belibet betapa kejamnya lini belakang PSG memblokir ruang gerak Miedema (megabintang mereka) lengkap dengan diagram, grafik, entah apalagi namanya memperlihatkan Miedema sebagai korban dari marking yang ketat.
Setelah kekalahan dari PSG ini menjadi trending, Tim Stillman, kolomnis sepak bola terkemuka Inggris memberi analisis mendalam soal betapa tidak tepatnya strategi pelatih yang membuat Arsenal harus kalah malam itu di The Guardian. Selebihnya lagi, dan lagi, pembicaraan tak beranjak dari Miedema adalah Arsenal, Arsenal adalah Miedema.
Kekalahan Arsenal yang menjadi topik pembicaraan ini tentu menyumbulkan tanda tanya besar. Pasalnya setelah Arsenal tersingkir dari ajang tersebut, pembicaraan Liga Champions Wanita Eropa di Twitter turun secara interaksi maupun intensitas percakapan.
Tidak heboh. Kabar baiknya, pembicaraan jadi lebih mendalam.
Bagi kamu yang aktif di Twitter pertanyaan-pertanyaan seperti berikut adalah wajar; Mengapa Arsenal yang kalah bisa begitu dibicarakan ketimbang Lyon saat menjuarai ajang ini? Apakah pembicaraannya organik? Bagaimana konsep pemasaran Arsenal? Seberapa jor-joran sebuah klub hanya untuk media sosial, terutama Twitter?
Tentu, tak ada jawaban pasti untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut, selain asumsi-asumsi.
Penikmat sepak bola hanya bisa berharap, penampilan di lapangan penentu mutlak.
Idealnya, kepopuleran di dunia maya harus berbanding lurus dengan performa lapangan. Sedang yang diperlihatkan Arsenal belakangan ini — terlalu berat memikul popularitas sosial media sampai lampu sorot media mainstream yang kelewat silau.
Terbaru, Arsenal menjadi klub wanita dengan tingkat kepopuleran tertinggi di dunia sepanjang September 2020 (data survei pembicaraan Twitter oleh D&F) dengan 857 ribu interaksi. Diikuti Chelsea dan Manchester United Women. Apakah ini sebuah prestasi? Yang jelas kepopuleran semacam ini tak perlu dirayakan, karena mengandung banyak bias hingga menulikan.
Fans Arsenal sedunia harus was-was dengan kabar ini. Terutama fans di Indonesia. Mengingat il phenomeno Pakde Jokowi di sosial media. Kebijakan populis kanan yang populer berkat afirmasi buzzer politik di media sosial, membuat pembicaraan tak lagi organik, membuat ia belepotan dalam mengambil kebijakan.
Semua dipatok Jokowi lewat kacamata perbincangan media sosial, terutama buzzer.
Terbaru, lihat pidato Joko ways soal omnibus law. Sehingga kritik dari para profesor, pakar, masyarakat sipil dan sejenisnya dianggap angin lalu.
Sejak 2014 dengung untuk Jokowi menjadi makanan publik yang mendorong orang menjadi penganut fanatisme sosok. Jokowi menjadi tak bercela, di mata pendukung yang irasional.
===
Kekhawatiran Arsenal menjadi seperti Jokowi di media sosial ini muncul ketika mengingat kembali bagaimana pendukung Arsenal menggambarkan kekalahan dari PSG 23 Agustus 2020.
Buzzer atawa fans Arsenal menggambarkan Arsenal adalah korban dari ketatnya garis pertahanan PSG, alih-alih menyoroti kesalahan taktik seperti disampaikan Tim Stillman di Guardian.
===
Semoga predikat klub wanita terpopuler di jagat media sosial tidak membutakan manajemen Arsenal WFC bahwa beberapa pertandingan terakhir, walau berakhir dengan kemenangan, permainan Arsenal sesungguhnya jeblok.
Terakhir, semoga kekhawatiran ini tak berdasar sama sekali.
Nyaris satu bulan tidak mengaktifkan Facebook, bahkan sempat berniat menghapus. Bila saja tak segera log-in otomatis terhapus ini akun. Tenggat-limit penghapusan 30 hari, berakhir dua hari lagi. Sederhana saja; Facebook sudah terlalu riuh, semak. Keadaan toxic begini sangat tidak bagus untuk pikiran, apalagi setiap pandangan-pandanganmu diafirmasi oleh algoritma, kecerdasan buatan yang membikinmu nyaman berada di dalam echo chamber (ruang gema).
Singkatnya begini: algoritma bikin kamu hidup dalam dunia maya dengan pikiran yang seragam, hanya menampilkan yang sepaham denganmu. Pada akhirnya algoritma ini juga yang menuntunmu memandang situasi sekadar hitam-putih, kawan-lawan, SJW-BuzzeRp, dsb.
Oke, biar tidak terlalu berbasa-basi, saya akhiri pembukanya sampai situ.
Sekarang, mengapa saya mengaktifkan kembali Facebook? Bukankah itu suatu inkonsistensi sikap yang berkali-kali saya tunjukkan? Mudah-mudahan ilustrasi di bawah ini membantu menjawabnya.
Kemarin petang, duo kamrad singgah ke rumah. Biasalah, kalau kamrad-kamrad itu ngobrol pada suka onani teori (revolusi 😝) sampai ribut ke tetek bengek lebih merakyat mana FIFA dari PES, bagusan mana jadi fans BTS atau Cherry Bullet, streaming murah di Netflix atau di HBO GO, bagus nonton A Taxi Driver dulu apa May 18, en seterusnya. Obrolan yang sungguh hangat tanpa sedikit pun membicarakan media sosial (tapi, sekali lagi, revolusi 😝).
Empat puluh menit kemudian, seorang kamrad lain gabung, sebut saja namanya Sjam Kamaruzaman. Ia berceloteh saja sejak dari depan pintu, sejak sebelum pantatnya menyentuh kursi. Sjam, kamrad yang sangat politis— sampai duduk di toilet sambil memegang sebatang Luffman pun baginya adalah tindakan politis kerakyatan— berceloteh soal Pilkada Dharmasraya, rupanya. Kami kira ia sedang kumur-kumur.
Topik Sjam ini sungguh membosankan, selain kebapakan. Yang menarik dari celotehnya itu yalah soal fenomena bermunculan pengamat peta politik musiman lewat status-status yang mereka sebar di linimasa Facebook hingga berujung war–left di grup WA.
Saya awalnya tak ambil pusing. Moga-moga pengamat dadakan bin musiman ini memberi pencerdasan ke publik daerah, bahwa pilkada itu kecil seupil, sedang demokrasi itu cakupannya jutaan kali lebih luas dari bilik suara. Moga-moga juga ada yang membicarakan tentang hak memilih untuk “tidak memilih”. Ha. Barangkali ada yang mau melompat ke wacana kampanye kotak kosong bila si Anu tak punya lawan, atau tak ada yang mau jadi lawan boneka si Anu.
“Coy, yang muncul kali ini lain, coba…” Kata si Sjam. Ia melihatkan beberapa kiriman di grup Facebook daerah, sejenis grup perang urat saraf. Setelah melongok sejenak ke layar yang ia sodorkan, tiba-tiba… saya tak kuat lagi menahan tawa, serius. Kamrad A, yang beberapa waktu belakang sedang kusuk meneliti oligarki kampung, dinasti politik feodal daerah, konservatifnya peta pemilih, posisi buruh-tani-rakyat dalam pemilu ternyata juga nimbrung, melongoh, “uasu tenaaan, iki wong barbar dalam teori, selemak dalam mengutip,” ketusnya.
Yang terjadi selanjutnya adalah sejarah…. Kamrad O, tabiat buruk lamanya kambuh, terkencing diam-diam di celana. Di seberang simpang Bob Dylan masih terdengar bernyanyi, “…the answer my friend is blowing in the wind, the aswer is…”
Nyaris satu bulan tidak mengaktifkan Facebook, bahkan sempat berniat menghapus. Bila saja tak segera log-in, otomatis terhapus ini akun. Tenggat limit penghapusan 30 hari, berakhir dua hari lagi. Sederhana saja; Facebook sudah terlalu riuh, semak. Keadaan toxic begini sangat tidak bagus untuk pikiran, apalagi setiap pandangan-pandanganmu diafirmasi oleh algoritma, kecerdasan buatan yang membikinmu nyaman berada di dalam echo chamber (ruang gema).
Singkatnya begini: algoritma bikin kamu hidup dalam dunia maya dengan pikiran yang seragam, hanya menampilkan yang sepaham denganmu. Pada akhirnya algoritma ini juga yang menuntunmu memandang situasi sekadar hitam-putih, kawan-lawan, SJW-BuzzeRp, dsb.
Oke, biar tidak terlalu berbasa-basi, saya akhiri pembukanya sampai situ.
Sekarang, mengapa saya mengaktifkan kembali Facebook? Bukankah itu suatu inkonsistensi sikap yang berkali-kali saya tunjukkan? Mudah-mudahan ilustrasi di bawah ini membantu menjawabnya.
===
Kemarin petang, duo kamrad singgah ke rumah. Biasalah, kalau kamrad-kamrad itu kalau ngobrol pada suka onani teori (revolusi 😝) sampai ribut ke tetek bengek lebih merakyat mana FIFA dari PES, bagusan mana jadi fans BTS atau Cherry Bullet, streaming murah di Netflix atau di HBO GO, bagus nonton A Taxi Driver dulu apa May 18, en seterusnya. Obrolan yang sungguh hangat tanpa sedikit pun membicarakan media sosial (tapi, sekali lagi, revolusi 😝).
40 menit kemudian, seorang kamrad lain gabung, sebut saja namanya Sjam Kamaruzaman. Ia berceloteh saja sejak dari depan pintu, sejak sebelum pantatnya menyetuh kursi. Sjam kamrads yang sangat politis, — sampai duduk di toilet sambil memegang sebatang Luffman pun baginya adalah tindakan politis kerakyatan— berceloteh soal Pilkada Dharmasraya, rupanya. Kami kira ia sedang kumur-kumur.
Topik Sjam ini sungguh membosankan, selain kebapakan. Yang menarik, dari celotehnya itu yalah soal fenomena bermunculan pengamat peta politik musiman lewat status-status yang mereka sebar di linimasa Facebook hingga berujung war-left di grup WA.
Saya awalnya tak ambil pusing. Moga-moga pengamat dadakan bin musiman ini memberi pencerdasan ke publik daerah, bahwa pilkada itu kecil seupil, sedang demokrasi itu cakupannya jutaan kali lebih luas dari bilik suara. Moga-moga juga ada yang membicarakan tentang hak memilih untuk “tidak memilih”. Ha. Barangkali ada yang mau melompat ke wacana kampanye kotak kosong, bila si Anu tak punya lawan, atau tak ada yang mau jadi lawan boneka si Anu.
“Coy, yang muncul kali ini lain, coba…” Kata si Sjam. Ia melihatkan beberapa kiriman di grup Facebook daerah, sejenis grup perang urat saraf.
Setelah melongok sejenak ke layar yang ia sodorkan, tiba-tiba… saya tak kuat lagi menahan tawa, serius.
Kamrad A, yang beberapa waktu belakang sedang kusuk meneliti oligarki kampung, dinasti politik feodal daerah, konservatifnya peta pemilih, posisi buruh-tani-rakyat dalam pemilu; ternyata juga nimbrung, melongoh, “uasu tenaaan, iki wong barbar dalam teori, selemak dalam mengutip.” ketusnya.
Yang terjadi selanjutnya adalah sejarah…. Kamrad O, tabiat buruk lamanya kambuh, terkencing diam-diam di celana.
Di seberang simpang, Bob Dylan masih terdengar bernyanyi, “…the answer my friend is blowing in the wind, the aswer is…”