• kepada: yang selalu mengimajinasikan dirinya berasal dari kawanan burung-burung bangau

    Sebab aku, juga kau, manusia//
    yang berpikir, dan//
    punya kehendak bebas//
    sebab itu, aku, juga kau tidak akan kembali//
    mengunjungi lumpur//
    kubangan//
    becek sawah//
    oleh patuk//
    oleh selaput//
    kaki yang itu itu//
    lagi//

    maka, sudahilah//
    mengawang; ke awang//
    ya. kau, juga aku//

    tak ada jalan pulang//

    kembali//
    kita asing-terasing-diasing-bukan bangau

  • MALAM ini seseorang mengirim pesan berisi pertanyaan (penulisan ulang di sini tidak sesuai dengan teks asli, telah melalui penyuntingan ke gaya formal), “Pertanyaanku, tidakkah terniat olehmu menikah dalam waktu dekat? Kamu boleh menjawab pertanyaan ini dengan hati-hati.”

    Tanpa pikir panjang kuutarakan jawabanku mengenai pernikahan yang kuyakini. Begini:

    “Maka jawaban jujur dan paling hati-hati untuk menjawab pertanyaanmu adalah untuk saat ini belum terpikirkan soal menikah olehku. Kenapa? Jika ini barangkali bakal menjadi tanya lebih lanjut untukmu, sebab aku mematut diri belum mampu membahagiakan perempuan yang sekiranya akan menjadi istriku.

    “Lalu, tentu kau pun, ku kira, akan bertanya lebih lanjut tentang haruskah memikirkan sejauh itu? Maka, ya, harus. Karena aku tidak mau menjadi bagian dari laki-laki patriark yang mengubah perempuan yang aku cintai menjadi tertekan karena ketidakmampuanku memenuhi mimpi-mimpinya.

    “Lantas, mungkin akan diikuti dengan tanya, memang harus begitu? Ya. Harus. Sebagai abang dari seorang adik perempuan aku juga tidak mau hal-hal demikian dialami oleh adikku. Menikahi laki-laki yang salah. Dan jika kau masih bertanya, lantas sampai kapan ini keyakinan tolol ini bertahan? Sampai kelak aku benar-benar ready, baik dari segi mental (you know, aku belum matang [dalam pesan aku menambahkan emot tertawa]) pun dalam segi finansial.

    “Coba bayangkan ilustrasi ini sejenak. Ada perempuan yang sebelum menikah hidupnya keren, bisa ke mana-mana, bisa wujudin mimpi-mimpinya. Lalu, karena dasar cinta mati (wih) pada seorang lelaki dia pun memilih menikahinya. Lalu yang terjadi kemudian dalam pernikahan perempuan itu tertekan, bahkan untuk bilang “tidak” pun (atas dasar cinta sangat) pada lelaki itu dia menjadi tidak berani.

    “Nah, sebelum semua itu terjadi, ada baiknya menikah itu kita anggap menjadi sebuah proses yang panjang. Itulah jawabanku. Maybe weird. :’))”

    […..]

    Hal yang tidak kukatakan padamu, hubunganku sebelumnya kandas akibat keseringan membahas pernikahan ini. Lantaran aku tidak ingin kita berputar-putar kelak dalam lingkaran pertanyaan tentang menikah yang melelahkan karena itu kamu harus kecewa lebih awal membaca jawaban dariku. Sementara kelegaan meliputi jiwaku akhirnya aku bisa jujur tentang ketaksiapanku untuk urusan sakral ini alih-alih menjadi yes-man berbelit-belit tanpa bisa menyakinkan hati perempuan hingga berujung kandas. Sebelum perasaan itu tumbuh mekar, alangkah baiknya, kupatahkan lebih awal. Kuharap, laki-laki lain tidak mengalami kegamangan sepertiku yang pesimis pada hari depan. Semoga kita masih bisa terus mengobrol hal-hal menyenangkan.

    Salam cinta untukmu.

    I’m sorry I love you.

  •  “We really don’t know what happen in the future.”

    Hei. Masih ingat kau pernah mengatakan sekalimat dalam bahasa Inggris itu padaku dalam beberapa kesempatan? Future. Keadaan di waktu depan. Waktu depan, masa akan datang. Seakan masa yang akan lama datang, bukan?

    Berlalu setahun, kurun tidak lama setelah sekalimat itu kau ucapkan kita sampai pula di future. Ia menjadi keadaan present, “saat ini”. Don’t know, kita ketahui melalui kenyataan: Kita selesai. Berakhir!

    Aku tak akan pernah menyalahkan diri akibat ujung tragik ini. Tak akan. Kitalah biang keladi perusak awal penuh harap yang pernah diskenariokan semesta. Seimbang; kau dengan besaran kadarmu-aku dengan andil kadar tersendiri. 

    Kau tak memberi banyak waktu padaku untuk memelajari kau dalam wujud nyata. Kulit bersentuh kulit. Mata bertatap mata. Kau memilih pergi, seolah tak ingin berlama-lama mengenankanku untuk memegang tangan, mencium dahi, mengelus rambut yang menutup jidatmu.

    Kau pergi dengan segoni ekspektasimu. Aku berdiam di tempat ini dengan segerobak kengototan. Lalu?

  • Hari libur cuti bersama Waisak, Selasa (13/5) sore, Achmal Syahab (Kemal) berkunjung ke Gunung Medan. Kunjungan spesial yang menunda sehari keberangkatan Albi Qolbu Zakia ke ibu kota provinsi sana, pula, kunjungan yang membangunkanku dari tidur siang keterusan.

    Kemal — saat ini pegiat lingkungan di Forest Guardian — datang dengan kaos hitam bergambar pejuang-pejuang kemanusiaan hingga pejuang yang kemanusiaannya direnggut negara, dari Bunda Teresa hingga Marsinah — pejuang kemanusiaan dari rahim perempuan di sudut Makedonia Utara sampai pejuang buruh dari desa Ngundo — tersusun di kaos itu.

    Sembari menunggu-menunggu kedatangan Albi disempatkan sejenak ngobrol, “Ke puncak, yuk, bang. Tempat meditasiku, tak pernah alpa kukunjungi kalau di sini,” buka Kemal dengan asap Draco membumbung di isapan kesekian, “Ayuk, you nanti akan punya tempat meditasi khusus baru.”

    Long story short, datanglah Albi, berkaos hitam dengan siluet Che Guevara. Lengkap sudah, batinku, aku akan men-guide dua anak muda dengan inspirasi perjuangan sesorean ini.

    ***

    Sekira 17.00 kami sampai di puncak bukit. Langsung kutunjukkan tempat baru buat meditasi Kemal. Tempat meditasi ini terletak beberapa jengkal dari destinasi biasa yang dikunjungi Kemal, agak menjorok ke bawah. Tempat ini sedang dibangun menggunakan anggaran Dana Desa tahun 2025.

    Albi dan Kemal duduk di atas gundukan Yo Man

    Hanya butuh beberapa detik untuk mendengar kata “wah” dari mereka. “Cocok, meditasi dengan tema yo man,” celetuk Albi. “Yo man” merujuk ke warna tempat duduk dan tiang-tiang penyangga berwarna hijau-kuning-merah, warna identik tradisi rastafarian Jamaika.

    Sementara sibuk mengecek setiap detil tempat sambil merekam-rekam, kutinggalkan mereka di sebuah kursi. Di kejauhan tampak mereka sudah mulai ngobrol sengit dibarengi musik dari album “Deru” punya Kolektif AMPSKP, side project Novi dari Sukatani. Obrolan yang dari jauh kucuri dengar sayup-sayup terdengar kata Papua, konvo, bantuan hukum, diselingi ketawa-ketawa kecil.

    Setelah cekikikan

    Sekenanya kujawab, “Barangkali itulah Gunung Medan, di samping cerita rakyat yang melegenda, hidup kedamaian di dalamnya. Eh, arsiteknya anak vespa pula.” Setelah lega dengan jawaban sekenanya tadi mereka mengajakku ke panorama, istilah Kemal untuk area tempat melihat pemandangan hijau dari ketinggian.

    ***

    Di dekat area panorama ini, sambil jalan, pada mereka kutunjukkan beberapa titik yang sentimen buatku. “Kalian tahu?” sambil menunjuk sebatang pohon tinggi, “di situ Nancy terakhir kali deeptalk dengan Sid Vicious.” Mereka mengerti rupanya analogi tadi. Tertawa-tawa menepuk pundakku.

    Area panorama, seperti istilah Kemal adalah sebuah tempat di bukit ini yang tersedia spot pemandangan hijau dari atas: ada sawah, ladang, pemukiman, bukit-bukit yang bertetangga ada di sini. Entah hal magis apa udara sore terasa begitu menyejukkan terasa juga olehku.

    Persis di sebelah kanan pogon itu, setahun berlalu

    Tak mau diporakporandakan ingatan tentang Sid-Nancy atau versi lain Layla-Majenun aku pun nimbrung di obrolan mereka tentang seorang kawan anarko yang akhimya menemukan kedamaian diri setelah berkompromi dengan nilai tradisional lingkungannya.

    Dari ketinggian

    Ya, dengan mereka obrolan akan selalu utopis.

    Pukul 18.00 candu mabar Kemal datang, mengentak-entak ingatannya pada rumah, pada sirkel gim, entahlah. Mari pulang.

  • Poster film oleh IMDB

    “Jika sepak bola adalah sebuah kepercayaan, maka inilah kepercayaan yang memiliki jumlah pengikut lebih banyak dari kepercayaan apa pun di dunia.”

    DOKUMENTER dibuka dengan kisah dari Rwanda. Sepak bola menjadi bagian penting proses rekonsiliasi natural —penyembuhan luka kolektif pascagenosida etnis Tutsi oleh Hutu pada 1994. Di Rwanda, menggemari Liverpool ibarat menemukan keluarga baru, rumah baru, maka lahirlah: Rwanda Reds, yang solidaritas sesama pendukung Liverpool di sana sampai ke level mengagumkan.

    Efek perang saudara menjadikan mereka menjiwai sangat dalam anthem “You’ll Never Walk Alone” kemudian layar berpindah ke footage ilustrasi pengumuman janggal radio, imbauan untuk menghabisi etnis Tutsi, diikuti rekaman miris pengungsian, mimpi kelam anak-anak Rwanda, hingga mayat-mayat mengapung di sungai.

    Sound familiar? Yap, identik dengan genosida kelompok kiri progresif di Indonesia tahun 1965–1966 oleh [SENSOR]. Dilanjutkan dengan bagaimana sepak bola wanita Jepang bangkit hingga menjadi juara dunia di tengah duka tsunami pada FIFA Women’s World Cup 2011, perjuangan panjang yang dikenang legenda terbesar mereka Homare Sawa sebagai “pembuktian budaya baru” setelah diabaikan sebab dianggap bukan bagian budaya Jepun.

    Di Amerika berlaku adagium, “football for man, soccer for women“, tentu menjadikan timnas perempuan Amerika sebagai kiblat sepak bola memerlukan tangan-tangan mahir kapital dalam kampanye, yang sayang, tidak diimbangi dengan penghasilan yang setara dengan pemain bola laki-laki “yang jeblok” tapi diupah tinggi, membuat generasi terbaru mereka, beberapa di antaranya mengklaim sebagai feminis, melakukan demonstrasi menuntut kesetaraan upah pada 2019, Februari 2022 mereka menang.

    Diperkaya dengan wawancara Brandi Chastain, pemain AS yang fotonya di final Piala Dunia Wanita 1999 begitu powerful, and many many more…

    Temans, meski minus cerita Conifa (piala dunia untuk negara-negara yang tak diakui), inilah “This is Football”, dokumenter yang membahas sepak bola cukup mendalam, memotret sepak bola dari sisi kemanusiaan, politik, hingga budaya.

    Trailer

    ===

    Tonton This is Football lewat Prime Video.

  • PENAFIAN: Catatan awal dalam bahasa Indonesia, karena dirasa terlalu intim, catatan ini dialih-bahasa ke English menggunakan akal imitasi terjemahan-parafrase. Penggalan yang diblok kuning diambil dari bait-bait dalam lagu True Blue, boygenius.

    Tonight you realize, just by seeing her happy from afar, you too are filled with joy and gratitude. Tonight you also realize, no matter who she is with now, as long as she is loved by that man, wholeheartedly, you will pray for him and want to embrace him soon, to say, my man, please don’t disappoint her even for a second in this short life. Don’t hurt her, as thin as any scratch in the world, please don’t!

    ((You were happy and I wasn’t surprised…))

    Tonight you also realize that love is about filling your heart and mind with positive vibrations about her. It’s as simple as that. Tonight, with utmost respect, an immense respect, you utter millions of words of adoration, without even being asked. Tonight you regret that love is not about longing or solely about the union of male and female genders, the latter of which you have long acknowledged.
    Love is vast.

    ((Your love is tough, your love is tried and true blue))

    Tonight you contemplate, if you cannot love with possession, with touch, then you will love her with your heart. Grateful to the universe, to every god worshiped by mankind, for introducing her to you.

    ((I can’t hide from you like I hide from myself))

    Until…

    ((I remember who I am when I’m with you))

  • Selamat jalan adiak abang. Berduka cita sedalam-dalamnya. Terima kasih untuk kehangatanmu pada semua orang, pada teman-temanmu. Juga atas komitmenmu dalam mewujudkan mimpi-mimpi sederhana yang berdampak.

    Menunjukkan betapa dashyatnya terjemahan Bunda oleh Pramoedya Ananta Toer, Agustus 2022

    Damai-damai di sana. Kami semua merindukanmu. Salam sayang.

  • Saat ini aku beruntung, lebih tepatnya berutang budi pada kawan-kawan yang kerja di bidang digitalisasi berikut:

    1. Pengarsip buku-buku kiri yang dilarang rezim fasis militer Soeharto;
    2. Kerja restorasi film lawas, terutama film-film era 50–60an, lebih bagus lagi karya sineas LEKRA;
    3. Pengarsip musik dari segala masa;
    4. Pendigitalisasi foto analog.

    Entah mengapa yang lawas-lawas itu menyimpan keindahan yang autentik. Ini menurut hemat subyektifku saja. Berkali-kali kukatakan kepada kawan-kawan aku menyukai semua yang klasik bukan berarti aku anti kemajuan zaman, justru bagiku ketertemuan antara masa silam dan teknologi modern adalah sebuah puisi yang magis. Terakhir, mengarsip itu kerja untuk keabadian, — everlasting, seperti kata perempuan itu setahun lalu.

  • KEMARIN aku memeriksa mata ke dokter. Sudah enam hari pandangan mata sebelah kananku buram. Awalnya aku tak ambil pusing toh dalam pikiranku bakal sembuh sendiri. Dua, tiga, empat hari kemudian barulah aku gusar penglihatan sebelah kanan tak kunjung membaik, segera aku laporkan ke ibu, sambil kena semprit, “Dari dulu sudah ibu bilang periksa matamu, bikin kaca mata.”

    Ibu benar, sebagai seorang yang suka membaca, bermain komputer, dan menggilai layar apa pun dari kecil mataku memang kurang sehat. Aku ingat, kelas V SD aku diberikan kaca mata hitam olehnya sebelum bermain komputer atau menonton televisi jaga-jaga radiasi sinar yang bikin perih mata. Kugunakan sebentar, lalu mencopot lagi. Kelas I SMP mataku sering sakit. Merah, gatal.

    Dulu ibu sering mengingatkan hati-hati, nanti kamu buta. Kebiasaan buruk berlanjut ketika SMA hingga hari ini, begadang, kegelisahan membuatku sulit untuk tidur. Macam-macam bentuknya.

    Sampai di tempat praktek dokter pukul 17.00 ditemani Rudy Prayogo. Mendaftar ke resepsionis (anggap saja ini nama penjaganya). Beberapa menit kemudian aku dipanggil masuk ke ruang pemeriksaan. Beruntung sekali, lengang, jadi tak perlu mengantre.

    Dalam ruangan, pertama si dokter menanyai perihal maksudku memeriksakan mata, kujawab, “mata sebelah kananku buram, Buk!” Lalu dokter mengira-ngira penyebabnya, hampir betul tebakannya, apa luput memakai helm ketika berkendara, kujawab, sesekali.

    Dokter menanyakan mataku belekan atau tidak, kujawab, ya sedikit, Buk! Singkat cerita dimulailah pemeriksaan ke benda-benda yang sangat asing bagiku. Kemudian berpindah ke alat lain semacam teropong. Lalu ke pemeriksaan tes mata.

    Di dinding dipaparkanlah deretan huruf dan angka. Ketika mata kananku ditutupi, aku bisa membaca dengan jelas huruf dan angka yang ditampilkan layar. Beda cerita jika yang ditutup mata kiri, aku tak mampu melihat huruf ukuran kecil di dinding. Dokter memintaku untuk kembali keluar, pekerja yang menunggu stand pendaftaran disuruh meneteskan obat ke mata kananku.

    Tetesan pertama, pedih sekali, kuyakin penderitaan kawan-kawan di Kanjuruhan akibat gas air mata aparat bangsat itu lebih pedih dari obat tetes ini, pikirku. Enam tetesan, dalam interval 20 menit. Kemudian aku dipanggil lagi ke ruang pemeriksaan. Dokter tadi menjelaskan tujuan obat tetes itu untuk memperbesar pupil mataku.

    Kemudian mataku disenter. Setelah pemeriksaan selesai, mataku didiagnosis Neuritis Optik. Aku diberi obat tetes sama pil untuk dimakan jika tidak membaik aku dirujuk ke RSUD. Mendengar ini aku bergumam, “modar aku!” Dokter tadi juga membuatkan surat pengantar ke Puskesmas, kemudian Puskesmas nanti membikinkan rujukan lagi ke RSUD.

    Setelahnya hanya cemas yang kudapati, tak fokus lagi mendengar penjelasan dokter ini. Yang kuingat adalah banyak makan rimbang, sebuah tumbuhan bulat kecil-kecil, katanya bagus untuk mata. Aku iya iya kan saja semua. Terkait tindakan lanjutan di RS nanti bisa dengan disuntik, dironsen, macam-macam cara nanti.

    Tiba-tiba aku nyeletuk, “Tidak operasi, Bu?” Aku sangat takut dengan tindakan ini. “Yo nggaklah kamu kan tidak katarak.” Fiuh, aman, lega sebentar. “Tidak bisa dengan bantuan kacamata saja pengobatannya, Bu?” kataku dengan suara cemas. “Tidak!” Duarrr. Mati aku kalau nggak membaik dirawat.

    Kusalin mengenai penyakut mata yang kuderita penjelasannya dari laman AloDokter, penyakit itu, “gangguan penglihatan akibat peradangan pada saraf mata (saraf optik). Kondisi yang sering terjadi pada penderita multiple sclerosis ini ditandai dengan buramnya penglihatan pada salah satu mata dan nyeri pada mata”.

    Obat yang kubawa pulang dua macam obat tetes, 6 tetesan perhari, obat makan, tiga kali sehari. Di jalan pulang cemasku bertambah jadi. Rudy coba menghibur dengan keakuannya, “Aku dulu… aku dulu… aku dulu…” Yaelah Rud. Hihihi. Diajak makan lotek di Tebing Tinggi, di dekat kecelakaan maut hari Minggu lalu. Semangatku drop. Gusar.

    Sampai si rumah Rudy, aku merenung. Disemangati istrinya, “Udahlah, tenang, Kel,” katanya. Jujur aku tidak bisa tenang. Aku malas jika harus dirawat. Takut.

    Dalam pikiranku, Aku nggak mau buta sebelum bertemu denganmu, aku nggak mau buta dulu sebelum melihat opresi militer di West Papua berakhir, aku nggak mau buta sebelum melihat adikku tumbuh dengan pilihan-pilihannya sendiri, aku nggak mau buta sebelum gerakan progresif revolusioner timbuh dan bangkit melawan. Aku nggak mau buta sebelum marxisme dipelajari luas di negeri ini. Aku nggak mau buta sebelum Gunung Medan bertumbuh sejahtera. Aku nggak mau buta sebelum menginjakkan kaki di seluruh dunia. Aku nggak mau buta.

    Malamnya aku pergi menenangkan diri ke ruko Harif, bermain dengan anaknya, kemudian mengedit video ke rumah Rudy.

    Aku tidur cepat malam ini, pukul 23 lewat sedikit, kuhidupkan Youtube yang menayangkan persidangan Sambo cs, kemudian tanpa sadar sudah tertidur pulas, paginya bangun sambil mencek perkembangan syaraf mataku, ternyata masih buram.

    Kurasa inilah permintaan mataku, “BERISTIRAHATLAH, BUNG!” Engkau terlalu menderita dengan berbagai macam pikiran.

    Gunung Medan, 18 Oktober 2022.